Habib Ali Zainal Abidin bin Abdurrahman Al Jufri :
Jangan pernah ridha kadar nilaimu terletak pada selembar kain yang engkau kenakan. Jangan pernah ridha nilaimu terletak pada mesin tak bernyawa yang engkau kendarai. Jangan pernah rela derajatmu berada pada rumah, pada kayu-kayu yang engkau gunakan untuk memperindah tempat tinggalmu. Jangan pernah ridha nilai dan derajatmu berada pada profesi atau pada restoran yang menjadi tempatmu menyantap makanan atau memesannya.
Nilai dan derajatmu adalah bahwa engkau memiliki hati yang
Allah senantiasa memandangnya. Jangan pernah sekali-kali engkau rela dan ridha untuk turun dan jatuh dari derajat kemuliaan itu.
Banyak di antara para pembesar arifin, mereka dalam kondisi lusuh dan dekil, yang, bila seseorang bertemu mereka, niscaya tidak akan menoleh ke arah mereka. Apakah kita katakan, mereka salah dengan berpenampilan seperti itu?
Tidak! Karena demikianlah kemampuan mereka. Mereka tidak dapat membeli pakaian layak yang semestinya. Mereka sangat mengetahui bahwa nilai mereka terletak pada hati, dan bukan pada selembar pakaian yang mereka kenakan.
Apakah orang-orang seperti mereka mendapatkan keistimewaan dari Allah SWT?
Benar. Tidakkah engkau mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Berapa banyak orang yang berambut lusuh, berpakaian usang, tidak dipedulikan dan kehadirannya ditolak orang, bila hendak menikahi, niscaya tidak dinikahkan, dan bila meminta bantuan, niscaya tidak dibantu, tapi, apabila ia bersumpah kepada Allah, niscaya Allah akan melaksanakan sumpahnya.”
Misalkan, ia berkata “Wahai Tuhanku, aku bersumpah kepada-Mu agar Engkau membalik tanah yang subur ini menjadi tanah gersang berdebu”, niscaya Allah akan melakukan hal itu.
Jadi, sangat mungkin bahwa orang yang berpenampilan lusuh dan dekil itu adalah dari kalangan muqarrabin.
Memang benar, sebagian orang menyikapi persoalan penampilan ini dengan cara yang salah. Mereka mengatakan, agama kita adalah agama kebersihan.Tidak pernah ada dalam agama ini kedekilan dan kelusuhan.
Sesungguhnya agama tidak pernah mengajarkan penghambaan kepada hal-hal lahir dan yang dapat terlihat kasatmata. Agama telah memerdekakankita dari penyembahan kepada yang terlihat kepada penyembahan Yang Maha Tersembunyi (Al-Bathin) dan Yang Maha-Nyata, Allah SWT.
Jadi, sejauh mana kita dapat berpenampilan dengan penampilan yang baik dan terindah, selama tidak sampai pada batas memaksakan diri, hal itu adalah utama.
Sumber: FB Pemburu Barokah

