Jakarta, Wartapolri- KP Norman mengatakan bahwa hakekat Sumpah tidak sekedar permainan kata kata, hanya ucapan rutin saja disaat mendapat jabatan dan tugas. Ucapan Sumpah seperti ini kayak ucapan sanubari akhirnya ketahuan dia amanah dan bersumpah palsu.
Tulisan ini merupakan refleksi hakekat Sumpah Palapa, Sumpah Pemuda dan terwujud dalam pelaksanaan dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia,Selasa(26/10)
Banyaknya masyarakat Indonesia yang melakukan sumpah. Entah sumpah yang benar-benar berasal dari sanubari, atau sumpah yang dibuat sebagai bualan, atau sekedar melepaskan diri dari tuduhan dan prasangka. Bahkan muncul pula sumpah pocong dan sumpah palsu lainnya yang diucapkan oleh para tokoh negeri ini ketika mereka menerima tugas berat sebagai abdi negara dan abdi masyarakat.ujarnya di kediaman nya jalan Mandor Hasan Jakarta timur
Memang awalnya, sumpah-sumpah itu tidak dapat dianggap sebagai sumpah palsu, tapi faktanya di antara tokoh yang bersumpah atas nama Kitab Suci yang sengaja bermain kata-kata, bahkan terkesan mengibuli Tuhan dengan sumpah yang telah diucapkan dihadapan bangsanya. Dan sampai saat inipun sumpah ini amat tenar diperdengarkan.
Meskipun Kitab Suci yang diletakkan diatas kepala sebagai tanda ketundukan kepada Tuhan, Yang Maha Esa, ternyata juga hanya menjadi bualan dan tipu daya agar lolos sebagai wakil rakyat.
Sebuah kejahatan yang tidak dapat dimaafkan dan mungkin pula berbuah kutukan. Meminjam istilah kompasianer ketika sumpah yang sakral telah dilencengkan maka yang timbul adalah para sampah yang memimpin rakyat yang tentu saja akhir dari kepemimpinan mereka adalah sumpah serapah dari orang-orang yang terpimpin dengan serapah.
Karena begitu banyaknya sumpah yang diucapkan dan semakin banyak sampah-sampah masyarakat yang berkeliaran maka otomatis kehidupan menjadi penuh keruwetan dan kekalutan akibat hati dan pikiran dipenuhi oleh sampah, sumpah yang dipermainkan.
Jika kita flashback sedikit, bagaimana Sumpah Palapa sudah disuarakan oleh Patih Gajah Mada kala itu, merupakan titik balik dari bersatunya semangat para tokoh nusantara untuk menciptakan simpul kekuatan dan menciptakan bahtera yang hendak dikendarai oleh para nahkoda negeri ini demi mencapai satu tujuan, kebahagiaan, kesejahteraan, dan persatuan bangsa dalam semangat kebhinekaan.
Kemudian, para Pemuda yang telah menciptakan konsensus nasional telah mengikrarkan semangat Persatuan dan kesatuan dalam bingkai keberagaman menuju satu tujuan yang sama yaitu kemerdekaan. Bangsa yang kokoh dan berdaulat, disegani oleh bangsa lain dan menjadi kekuatan dunia yang pantas diperhitungkan.
Begitu eloknya gelora dan semangat Sumpah Pemuda mengilhami setiap langkah anak negeri ini dalam merajut mimpi meraih kejayaan bersama.
Tapi, sungguh sangat disayangkan, ada di antara mereka yang telah bersumpah ternyata mereka melupakan sejarah, di antara mereka menjadikan sumpah justru untuk menipu dan menutupi kedok kejahatan yang selama ini ditutup rapat-rapat, walaupun toh akhirnya usaha tipu daya akhirnya dapat terbuka dengan sendirinya. Karena serapi apapun kejahatan ditutupi pasti akan terbuka juga seiring dengan perjalanan waktu.
Bagaimana mungkin Sumpah Palapa yang digelorakan kini harus berganti sumpah serapah para generasinya? Jawabannya karena kita terlalu sering bahkan terlalu terbiasa bersumpah palsu, bahkan para lelembut pun menjadi sandaran ketika mereka bersumpah. Sebuah kesalahan yang dianggap sederhana tapi berat dirasakannya.
Dan inilah saatnya ketika sumpah serapah justru dianggap sebagai mutiara dan semangat sumpah palapa justru dianggap sebagai sejarah yang terlupakan.
Fenomena sumpah serapah merupakan buntut dari ketidak percayaan anak negeri atas tingkah polah oknum para pengelola negeri ini, ibarat sulitnya membangun dinding harus diluluh lantakkan oleh sekelompok orang yang tidak dapat dipercaya, otomatis apa yang dahulu diperjuangkan sedikit demi sedikit harus kehilangan makna dan kehormatan. Jatuh tersungkur dalam keterpurukan dan terkoyaknya kegagahan negeri ini akibat ketidak berdayaan memegang amanah rakyat.
Tapi, sumpah serapah tetaplah sumpah serapah dan takkan memberikan makna positif, melainkan hanya hujatan dan sindiran dan doa-doa keji yang diperdengarkan. Akhirnya ketika sumpah serapah menjadi bagian kehidupan, maka tak ayal lagi negara yang damaipun mesti kita korbankan.
Andaikan saja anak negeri ini memahami hakekat sumpah palapa dan memaknai sumpah pemuda, maka tak akan lagi sumpah serapah yang disuarakan di antara sesama bangsa karena hakekatnya tujuan kita adalah sama keadilan sosial dalam kebhinekaan tanpa memandang perbedaan.pungkas Beliau menutup pembicaraan
(Sayid Muhammad)

