Bupati Sumba Barat Bersama Forkopimda Telah Menyatakan Sikap Terkait Kelompok Pejuang Subuh Sumba

Waikabubak – wartapolri.com | Bupati Sumba Barat Yohanes Dade, SH., memimpin rapat koordinasi bersama Stakeholder (Ketua Pengadilan Negeri Waikabubak, Ketua Pengadilan Agama Waikabubak,Tokoh Agama Kristen Protestan, Tokoh Agama Katolik, Tokoh Agama Hindu, Ketua MUI Sumba Barat, Ketua FKUB Sumba Barat) untuk menyikapi pemberitaan di media sosial tentang dinamika toleransi kehidupan umat beragama di Kabupaten Sumba Barat, tanggal 12 Juli 2021 lalu, di Aula Rumah Jabatan Bupati Sumba Barat.

Dalam kegiatan rapat koordinasi yang dipimpin langsung oleh Bupati Sumba Barat, Yohanes Dade dihadiri Dandim 1613/SB Letkol Czi.Irawan Agung Wibowo, S.T.M, Tr (Han), Wakapolres Sumba Barat Kompol Yulius Ola, Ketua Pengadilan Negeri Waikabubak, Ketua Pengadilan Agama Waikabubak, Kejari Sumba Barat, Plt. Sekda Drs.Daniel Pabala, Ketua FKUB Sumba Barat, Ketua MUI, Tokoh Agama (Katolik, Hindu, Kristen Protestan), Koordinator Pejuang Subuh Sumba (PSS), dan para Asisten pada Setda Kabupaten Sumba Barat Sumba Barat.

Dalam kegiatan rapat koordinasi itu, Bupati Sumba Barat Yohanes Dade bersyukur bahwa kerukunan di provinsi provinsi Nusa Tenggara Timur khususnya di Kabupaten Sumba Barat masih sangat rukun. “saya sangat bersyukur karena masyarakat kita di Provinsi Nusa Tenggara Timur khususnya di Kabupaten Sumba Barat kehidupan umat beragama sangat rukun,” ungkap Yohanes Dade

Sebagai pimpinan wilayah di Kabupaten Sumba Barat, Bupati Yohanes juga, berharap agar kerukunan umat beragama yang sudah bejalan sangat bagus di kabupaten Sumba Barat harus tetap terjaga.

“Sebagai pimpinan di daerah ini saya sangat berharap agar kita saling menopang, saling menghargai, saling menghormati dan kita bergandeng tangan memberi pencerahan dan arahan serta petunjuk kepada masyarakat di daerah ini, apalagi terkait dengan semakin maraknya informasi berkembangnya isu-isu yang tidak dapat di pertanggung jawabkan”, tutur Bupati.

“Kegiatan yang dilakukan oleh para Pejuang Subuh Sumba sudah dimainkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab yang ingin memecah belah kerukunan hidup antar umat beragama di daerah ini. Adapun catatan kecil juga yang sempat saya baca terutama dari hasil klarifikasi Kapolres Sumba Barat terkait pejuang subuh maka saya perlu menyampaikan bahwa dengan banyak munculnya berita yang belum pasti dan dapat berpotensi memecah belah kekuatan antar umat beragama di wilayah Kabupaten Sumba Barat sehingga kita semua tidak mudah terprovokasi oleh isu – isu yang berkembang saat ini”, imbuh Bupati.

Adanya pernyataan dan berita bermuatan Hate Spech / ujaran kebencian yang saat ini banyak dibagikan di media sosial terkait dengan keberadaan kelompok Pejuang Subuh Sumba yang mereka firalkan di media sosial.

Tujuan dari Pejuang Subuh Sumba, Bupati Yohanes menghimbau dan mengajak pemuda remaja Islam untuk membiasakan diri dalam melakukan sholat subuh bersamaan karena selama ini sholat subuh sangat sulit untuk di lakukan oleh anak-anak remaja beragama islam.

“Tentu juga kita mewaspadai bahwa adanya oknum-oknum yang memanfaatkan kesempatan dengan adanya Pejuang Subuh Sumba tersebut karena di Kabupaten Sumba Barat di tahun 1985 sempat adanya gesekan-gesekan antara umat beragama dengan hasutan dari oknum yang tidak bertanggung jawab,” ujar Bupati.

Bupati Yohanes juga berharapkan agar pertemuan yang telah digelar bersama bagi para tokoh-tokoh terkait untuk menghimbau kepada umatnya agar tidak terpancing dengan adanya isu-isu yang berkembang, baik di media sosial maupun di kasat mata kita di Kabupaten Sumba Barat,” ungkap Jhon Dade.

Inti dari pertemuan ini, mari kita bergandengan tangan dalam membangun kerukunan umat beragama di Bumi Padaeweta Manda eElu Sumba Barat tercinta ini dan apabila masih terdapat oknum / akun palsu di media sosial yang masih memfiralkan Pejuang Subuh Sumba ini, maka kita percyakan kepada pihak berwenang dalam hal ini TNI-POLRI untuk menangani guna menjaga situasi kerukunan umat beragama agar tetap berjalin dengan baik.

“Pemerintah Kabupaten Sumba Barat akan berkomitmen untuk membuat suatu program dalam pertemuan antara tokoh-tokoh Agama, Tokoh Masyarakat bersama dengan tokoh-tokoh terkait untuk membahas tentang Kerukunan Umat Beragama selama dua bulan sekali dilaksanakan serta menyampaikan kepada Kepolisian Resor Sumba Barat untuk segera lakukan penyelidikan oknum yang menyebar isu-isu provokasi,” tutup Yohanes Dade.

Sementara itu, Dandim 1613/ SB Letkol Czi.Irawan Agung Wibowo, S.T.M, Tr (Han) mengatakan bahwa kerukunan umat beragama di Kabupaten Sumba Barat sangat akur selama ini, mari kita menghindari isu-isu tersebut dan mari bersatu bergandengan tangan antara satu agama dengan agama yang lain yang ada di Kabupaten Sumba Barat agar tetap berjalin dengan baik.

“Untuk mengatasi viralnya kelompok Pejuang Subuh Sumba, maka seluruh tokoh-tokoh Agama, agar menyampaikan kepada umatnya untuk tidak menanggapi hal tersebut namun mempercayakan sepenuhnya kepada pihak terkait untuk menangani hal tersebut,” ungkap Irawan.

Kapolres Sumba Barat AKBP FX Irwan Arianto,S.I.K,MH yang diwakili oleh Wakapolres Sumba Barat Kompol Yulius Ola, mengatakan bahwa untuk Pejuang Subuh Sumba pernah di ikuti oleh Anggota saya yang beragama Islam dari tahun 2018 dengan kegiatan – kegiatan yang mereka jalankan yaitu mengajak pemuda remaja muslim untuk melakukan Ibadah Sholat Subub bersama.

Wakapolres Yulius Ola juga, menyampaikan bahwa kedepan nanti akan dilakukan kegiatan ibadah bersama antara masyarakat dengan Anggota TNI – POLRI guna mengeratkan hubungan kekeluargaan di Kabupaten Sumba Barat.

“Untuk Pejuang Subuh Sumba tersebut pernah di lakukan oleh Anggota Polres Sumba Barat bersama Anggota Pejuang Subuh Sumba namun kegiatan Sholat Subuh atau sosial tidak keluar dari ajaran yang di jalankan selama ini”.

Yang menjadi permasalahan pada Pejuang Subuh Sumba Adalah Logo yaitu Kuda hitam dan Bendera hitam tersebut.

Apabila Pejuang Subuh Sumba ini hanya organisasi kecil, maka kami sarankan bahwa lebih bagus logo dari Pejuang Subuh Sumba tersebut di tiadakan / di pertimbangkan, dan apabila membuat logo tersebut mempunyai legal dari pengurus pusat pejuang subuh.

Kami dari Pihak kepolisian tetap melakukan monitor dan pengawasan terhadap kegiatan – kegiatan yang di lakukan oleh para Pejuang Subuh Sumba guna menjaga kerukunan antara umat beragama.

Kapolres Irwan Arianto melalui Wakapolres Kompol Yulius Ola juga, mengajak kepada semua Masyarakat Kabupaten Sumba Barat untuk tidak terpancing dengan adanya isu – isu yang beredar di kalangan media sosial saat ini. “Mari kita bahu membahu dalam menjaga situasi kamtibmas di Kab. Sumba Barat tetap berjalan aman dan kondusif,” ajak Kompol Yulius Ola.

Berikut ini beberapa sikap dari Bupati Sumba Barat bersama Ketua Pengadilan Negeri Waikabubak, Ketua Pengadilan Agama, Ketua MUI Sumba Barat, Ketua FKUB Sumba Barat, Plt.Sekda, Tokoh Agama (Katolik, Kristen Protestan, Hindu), Koordinator Pejuang Subuh Sumba (PSS), dan para Asisten pada Setda Sumba Barat yang ditanda-tangani bersama, diantaranya:

1. Kami setia kepada Pancasila dan Undang – Undang Dasar 1945, Bhineka Tunggal Ika dan Negara Kesatuan Republik Indonesia

2. Kami mendukung Kepolisian Republik Indonesia dan Tentara Nasional Indonesia serta penegak hukum lainnya,terhadap oknum penyebar paham,organisasi masyarakat yang bertentangan dengan idologi pancasila, radikalisme,serta terorisme dan oknum yang membangun opini untuk memecah belah kerukunan umat beragama di Kabupaten Sumba Barat sebagai wujud kehadiran negara dalam menjaga kerukunan antar umat beragama yang selama ini terjalin dengan baik.

3. Kami bertekad membangun kebersamaan dalam semangat saling menghormati dan saling menghargai, mengembangkan langkah – langkah dialog diantara seluruh komponen masyarakat Sumba Barat dalam rangka menyatukan langkah sesuai dengan tugas dan fungsi masing – masing guna mewujudkan iklim yang kondusif bagi terselenggaranya kegiatan pemerintahan pembangunan dan pembinaan kemasyarakatan.

4. Kami bertekat untuk meningkatakan kesadaran dan tanggung jawab seluruh pemangku kepentingan di Kabupaten ini untuk menciptakan kerukunan umat beragama menuju terciptanya keamanan dan ketertiban guna stabilitas nasional di Kabupaten Sumba Barat.

5. Kami bertekad untuk menepis intoleransi yang dilakukan melalui media sosial dan akan berupaya untuk memberikan penyuluhan kepada masyarakat dan khususnya umat beragama masing – masing untuk mengembangkan toleransi kehidupan beragama

6. Kami mendesak aparat penegak hukum agar dapat menyikapi isu sara yang berkembang melalui media sosial sehingga tidak menimbulkan interpretasi yang beragama dan dapat menjurus kepada konflik sosial.

7. Kami menyampaikan bahwa sesuai informasi yang disampaikan oleh FKUB dan Pejuang Subuh Sumba organisasi ini bertujuan mulia dibidang kerohanian dan kemanusian sehingga relevan untuk mendukung pelaksanaan pembangunan di Kabupaten Sumba Barat.

8. Kami menyatakan bahwa isu islamisasi di Kabupaten Sumba Barat yang dikemukakan melalui media sosial dan afiliasi kelompok pejuang subuh Sumba kepada HTI dan FPI adalah tidak benar.

Penulis : Anton Gallu

Mungkin Anda Menyukai