Usulan Tak Direspon Pemerintah, Warga Jemaat GKS Kabukarudi Cabang Batakapuda dan Ngora Daiko Gotong Royong Bangun Jembatan Darurat Berbahan Bambu

Lamboya, wartapolri.com – Puluhan warga jemaat GKS Kabukarudi Cabang Batakapuda dan Ngora Daiko, Desa Laboya Dete, Kecamatan Lamboya, Kabupaten Sumba Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur gotong royong membangun jembatan darurat seadanya dengan berbahan bambu yang terletak di sungai Hangkapu yang menghubungkan antara Desa Kabukarudi dengan 3 (Tiga) desa lainnya, yakni desa Laboya Dete, desa Sodana, dan desa Bodosula.

Pembangunan jembatan darurat itu merupakan bentuk inisiatif dan ide spontan dari Pendeta Elisabeth Lali Suluh, S.Th., bersama warga jemaat GKS Kabukarudi Cabang Batakapuda dan Ngora Daiko dari peristiwa banjir yang menyebabkan pelayanan kepada warga jemaat terhambat akibat bencana banjir pada musim hujan setiap tahun di sungai Hangkapu.

Menurut Pdt. Elisabeth Lali Suluh, S.Th yang ditemui media ini di sungai Hangkapu, menjelaskan bahwa pembangunan jembatan darurat yang berbahan bambu seadanya di sungai Hangkapu tersebut, merupakan ide spontanitas pada saat ia melaksanakan pelayan akta gerejawi (PMK) di cabang Batakapuda. Ide spontan dari Pendeta Elisabeth itu untuk membangun jembatan darurat dengan bebahan bambu mendapat respon positif dan dukungan dari warga jemaat yang hadir, hingga akhirnya ia membawa dalam doa safaat.

“Pembangunan jembatan darurat yang berbahan bambu ini merupakan ide spontan saja saat saya pelayanan akta gerejawi (PMK) di cabang Batakapuda. Di Welibo sebanyak tiga kali langgar sungai kenapa bisa ada jembatan, kenapa di Laboya Dete ini hanya langgar sungai satu kali kenapa tidak bisa ada jembatan, seperti itu pemikiran saya saat itu. Sehingga pada saat saya pelayanan di Cabang Batakapuda, muncul ide saya untuk membangun jembatan darurat dan ide itu saya menawarkan kepada warga jemaat yang hadir. Ide saya itu mendapat respon positif dan dukungan dari warga jemaat yang hadir pada saat itu dan juga warga kepercayaan marapu sangat mendukung”, pungkasnya.

Lebih lanjut Pdt. Elisabeth menerangkan, bahwa aparat desa setempat yang juga merupakan warga jemaat GKS Kabukarudi Cabang Hangkapu dan Batakapuda, secara pemerintah desa tidak mendukung pembangunan jembatan darurat tersebut, namun menurut Pendeta Elisabeth sebagai warga jemaat mereka sangat mendukung. Secara pemerintahah, aparat desa setempat tidak mendukung pembangunan jembatan darurat tersebut lantaran pemerintah desa merasa kecewa dengan pemerintah di level atas, yang seharusnya jembatan Hangkapu yang sudah di P1 pada saat musrembang tingkat Kabupaten Sumba Barat, namun jatah jembatan Hangkapu tersebut dioper di Kecamatan Wanukaka. Begitu pula dengan jembatan gantung yang seharusnya jatah Hangkapu, namun dioper ke desa Welibo.

“Aparat desa setempat yang juga merupakan warga jemaat GKS Kabukarudi Cabang Hangkapu dan Batakapuda, secara pemerintah desa mereka tidak mendukung pembangunan jembatan darurat ini, namun sebagai warga jemaat mereka sangat mendukung. Secara pemerintahah, aparat desa setempat tidak mendukung pembangunan jembatan darurat ini, karena pemerintah desa merasa kecewa dengan pemerintah di level atas, yang seharusnya jembatan di sungai Hangkapu yang sudah di P1 pada saat musrembang tingkat Kabupaten Sumba Barat, namun jatah jembatan Hangkapu tersebut dialihkan di Kecamatan Wanukaka. Begitu pula dengan jembatan gantung yang seharusnya jatah Hangkapu, namun dialihkan ke desa Welibo, ini menurut pendapat aparat desa Laboya Dete sekaligus sebagai warga jemaat Cabang Ngora Daiko”, terang Pdt. Elisabeth Suluh.
Ia berharap agar ide spontanitas untuk membangun jembatan darurat dapat berdampak besar bagi masyarakat desa Laboya Dete dan sekitarnya, baik untuk pelayanan di jemaat, pendidikan, kesehatan dan juga untuk sebagai moda trasportasi masyarakat umum.

Bencana banjir pada musim hujan setiap tahun di sungai Hangkapu, bukan hanya menghambat pelayanan kepada warga jemaat GKS Kabukarudi yang ada di cabang Batakapuda dan Ngora Daiko, juga menghambat pelayanan pendidikan (SDM Watuliti dan SMP Negeri 4 Lamboya), pelayanan kesehatan serta menghambat pelayanan pembangunan di desa.

Sekretaris Desa Laboya Dete, Robert Pati Tunu kepada media ini mengatakan bahwa setiap musim hujan, banyak ternak peliharaan masyarakat desa setempat yang terhanyut akibat banjir, bahkan menurut Robert beberapa tahun lalu sudah 4 (Empat) orang korban yang terhanyut banjir dan terakhir pada tahun 2014 silam, salah seorang warga desa setempat terhanyut banjir hingga saat ini jasadnya tidak ditemukan.

“Setiap musim hujan, banyak ternak peliharaan masyarakat sekitar sini yang terhanyut akibat banjir, bahkan beberapa tahun lalu sudah ada korban jiwa sebanyak 4 (Empat) orang yang terhanyut banjir dan terakhir pada tahun 2014 silam, salah seorang warga kampung Sodana terhanyut banjir hingga saat ini jasadnya tidak ditemukan”, tuturnya.

“Dari kejadian-kejadian inilah, sehingga kami terus-menerus mengusulkan untuk pembangunan jembatan Hangkapu. Dan pada saat musrenbang tingkat Kabupaten Sumba Barat beberapa tahun lalu, usulan pembangunan jembatan Hangkapu sudah P1 (pembangunan prioritas), namun dalam perjalannya pemerintah di level atas mengatakan bahwa anggran untuk membangun jembatan Hangkapu tidak cukup”, imbuh Robert.

Sekretaris Desa Laboya Dete itu mengungkapkan kekecewaannya terhadap pemerintah Kabupaten, lantaran pemerintah di level atas selalu mengalihkan jembatan yang seharusnya jatah untuk Desa Laboya Dete namun dialihkan ke desa lain saat penyebaran proyek.

“Tahun lalu pada saat musrenbang tingkat Kabupaten Sumba Barat, saya yang di deligasikan oleh Pemerintah Kecamatan untuk mengikuti musrenbang. Dan pada saat itu, menurut Robert Tunu, Bupati Agustinus Niga Dapawole sendiri yang menyampaiakan bahwa akan ada satu jembatan gantung di Desa Laboya Dete. Namun pada saat penyebaran proyek, Desa Laboya Dete tidak dapat jembatan gantung, malah yang dapat 2 (Dua) jembatan gantung itu desa Welibo. Padahal menurut Robert, pada saat musrenbang di tingkat Kabupaten, tidak ada jembatan gantung untuk desa Welibo, waktu itu masih masanya Bupati Agustinus Niga Dapawole”, ungkapnya.

Lanjut Robert, usulan pembanguan jembatan di sungai Hangkapu tersebut sudah 3 (Tiga) kali dilakukan pengukuran dari dinas terkait dan pada saat itu sudah tanam pilar jembatan. Menurut Robert, panjang jembatan Hangkapu sesuai hasil pengukuran dari dinas tekait itu sepanjang 60 meter.

Menurut Sekretaris Desa Laboa Dete itu, mengatakan bahwa setiap tahun pada musim hujan pelayanan dibidang pendidikan tidak berjalan maksimal akibat bencana banjir, karena mayoritas tenaga pendidik berasal dari luar desa Laboya Dete yang notabenenya harus melewati sungai Hangkapu. Begitu pula dengan pelayanan kesehatan, apabila ada ibu hamil yang hendak bersalin yang semestinya harus cepat tertolong, namun karena terjadi bencana banjir sehingga sulit membawa pasien ke Puskesmas Kabukarudi, terkadang yang disalahkan oleh pihak tenaga medis adalah keluarga pasien dan juga sasaran pemerintah desa.

Camat Lamboya Daud Eda Bora, yang ditemui media ini di sungai Hangkapu juga sangat mendukung ide spontanitas dari Pendeta Elisabeth Suluh untuk pembangunan jembatan darurat yang berbahan bambu, sebagai moda transportasi yang digunakan untuk pelayanan kepada warga jemaat, pelayanan dibidang pendidikan dan pelayanan kesehatan.

“Saya selaku pemimpin wilayah Kecamatan Lamboya juga sebagai warga jemaat, sangat mendukung ide spontanitas dari Ibu Pdt. Elisabeth Suluh untuk membangun jembatan darurat ini bersama warga jemaat di Laboya Dete ini. Semoga dengan pembangunan jembatan darurat yang berbahan bambu ini bisa membawa dampak yang sangat besar kepada masyarakat Desa Laboya Dete dan sekitarnya, dan semoga banyak pihak yang berisiatif agar suatu saat jembatan darurat ini menjadi jembatan parmanen”, tuturnya.

Penulis : Anton Gallu

Mungkin Anda Menyukai